
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko didampingi Direktur Teknologi Informasi Keimigrasian Chicco Ahmad Muttaqin, Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Yuldi Yusman, Direktur Tempat Pemeriksaan Imigrasi Suhendra, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Barat, serta pihak ITB berfoto bersama di sela uji coba drone di Lanud Suparlan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (19/9/2026). Foto: Humas Kanwil DItjen Imigrasi Jawa Barat.
Imigrasi Cirebon turut mengikuti rangkaian kegiatan pengembangan teknologi pengawasan keimigrasian bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jumat (19/9/2026). Rangkaian kegiatan diawali dengan kuliah tamu yang digelar di Gedung CRCS Lantai 3 ITB, Jalan Ganesha Nomor 10, Bandung, Jawa Barat.
Dalam kegiatan tersebut, jajaran Imigrasi Cirebon mengikuti kuliah tamu bersama para peserta, dosen, serta jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi. Kegiatan menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dan pembahasan mengenai pengembangan teknologi yang dapat mendukung pelaksanaan tugas keimigrasian.

Direktur Teknologi Informasi Keimigrasian Chicco Ahmad Muttaqin bersama para peserta, dosen tamu, dan jajaran Direktorat Jenderal Imigrasi berfoto bersama usai kegiatan kuliah tamu di Gedung CRCS Lantai 3 ITB, Jalan Ganesha Nomor 10, Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9/2026). Foto: Humas Kanwil DItjen Imigrasi Jawa Barat.
Usai kegiatan di ITB, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan uji coba teknologi pesawat tanpa awak atau drone di Lanud Suparlan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Imigrasi Cirebon turut hadir dalam kegiatan tersebut, yang menjadi bagian dari pengembangan drone sebagai salah satu teknologi yang diproyeksikan menjadi “pagar digital” untuk memperkuat pengawasan kawasan perbatasan dan pulau-pulau terdepan Indonesia.
Uji coba tersebut turut ditinjau langsung oleh Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko. Hadir pula Direktur Teknologi Informasi Keimigrasian Chicco Ahmad Muttaqin, Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Yuldi Yusman, Direktur Tempat Pemeriksaan Imigrasi Suhendra, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Barat, pihak ITB, serta jajaran Imigrasi Cirebon.
Pengembangan drone ini dilakukan Direktorat Jenderal Imigrasi bersama ITB sebagai upaya memanfaatkan teknologi dalam menghadapi tantangan pengawasan wilayah Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah perbatasan darat dan laut dengan tiga negara tetangga, Indonesia memiliki kondisi geografis yang membuat pengawasan tidak selalu dapat dilakukan secara manual.
Drone yang diuji coba merupakan hasil pengembangan startup binaan ITB, Mantis Agritech. Founder Mantis Agritech, Mochammad Agoes Moelyadi, menjelaskan bahwa drone tersebut menggunakan desain hybrid dengan sayap tandem. Desain ini memungkinkan pesawat terbang dengan kecepatan rendah sehingga dapat merekam objek di area perbatasan secara lebih presisi.
Dari sisi durasi penerbangan, drone tersebut mampu terbang hingga sekitar 50 menit. Kemampuan ini jauh lebih panjang dibandingkan quadcopter konvensional yang rata-rata hanya memiliki durasi terbang sekitar 15 menit dengan kapasitas baterai yang sejenis.
Kemampuan daya jelajah dan durasi penerbangan tersebut dinilai mendukung pemantauan udara dalam jangka waktu yang lebih panjang, terutama di wilayah terpencil dan kawasan perbatasan. Teknologi ini diproyeksikan dapat mendukung kebutuhan pemantauan wilayah perbatasan, mulai dari Kalimantan hingga Papua.
Dalam kesempatan tersebut, Hendarsam menyampaikan bahwa secara teknis drone yang dikembangkan sudah siap. Namun, masih terdapat sejumlah tahapan regulasi yang perlu diselesaikan, termasuk sertifikasi dan izin terbang dari Kementerian Perhubungan.
Setelah proses sertifikasi rampung, pengembangan drone diharapkan dapat berlanjut ke tahap proyek percontohan atau pilot project hingga pengadaan. Mitra industri manufaktur dalam negeri juga telah disiapkan untuk mendukung produksi drone tersebut.
Pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan perbatasan dengan memanfaatkan inovasi dalam negeri. Konsep “pagar digital” yang dikembangkan melalui teknologi drone diharapkan dapat memperluas jangkauan pemantauan sekaligus mendukung pelaksanaan pengawasan di wilayah yang memiliki tantangan geografis.
Bagi Imigrasi Cirebon, keikutsertaan dalam rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan teknologi dan inovasi di bidang keimigrasian. Tidak hanya melihat pengembangan teknologi secara langsung, rangkaian kegiatan yang diawali dengan kuliah tamu di ITB tersebut juga menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan dan memahami lebih jauh arah pengembangan teknologi yang nantinya dapat mendukung tugas pengawasan keimigrasian.

